20101231

sinopsis bread love and dream episode 9

Jin Gu menangis minta maaf pada Tak Gu atas semua kesalahannya. Tak Gu tidak bisa terima, dia mencengkeram kerah baju Jin Gu dan bilang kalau Jin Gu tidak perlu minta maaf, Tak Gu hanya ingin mendengar kalau ibunya selamat dan baik-baik saja. Jin Gu semakin terisak, dia sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu Tak Gu dan membuatnya “tewas”. Tak Gu sangat shock, terpukul, tidak siap dengan “kenyataan” ini, hatinya hancur, harapannya hilang dan dia hanya bisa menangis dan meraung keras. Mi Sun ikut sedih melihat Tak Gu sangat terpukul. Raungan Tak Gu bahkan terdengar sampai lantai bawah, semuanya heran mendengar tangisan Tak Gu, Bos Yang yang mengerti keadaan Tak Gu merasa sedih juga. Presiden yang akan masuk mobil juga mendengar raungan Tak Gu, tapi dia tidak terlalu yakin. (ya ampun pak.. ntu anakmu yang lagi nangis tau!! Kalo udah kayak gini, ga perlu bilang aku ikut nangis)
Flashback
Ketika Jin Gu masih ada di penjara, Bos Yang memberikan kursus membuat roti kepada para napi. Itulah pertama kalinya mereka bertemu. Bos Yang mendatangi Jin Gu yang diam saja, padahal napi lain sudah membuat adonan roti. Jin Gu bilang kalau dia tidak mau membuat roti, Bos Yang heran. Saat Bos Yang menanyakan nama Jin Gu, Jin Gu bilang kalau dia tidak punya nama.
Akhirnya, setelah Jin Gu keluar dari penjara, Boss Yang [yang saat itu masih belum jadi bos] membawa Jin Gu menghadap Kakek Bong. Jin Gu memohon pada Kakek Bong untuk menerimanya karena dia ingin belajar [baca : bertobat], “Maafkan aku guru, meskipun aku merasa tidak punya kemampuan, tapi aku masih punya mimpi untuk membuat roti”. Kakek Bong semula tidak terlalu tertarik, tapi begitu melihat ada tato kincir angin di lengan Jin Gu, dia kaget dan langsung teringat pada Tak Gu kecil yang mencari pria bertato kincir angin agar bisa menemukan ibunya. Kakek Bong menanggapi,”Alasan pria ini sungguh menarik”. Jin Gu tidak mengerti maksud kata-kata kakek tersebut.
Flashback end
Ternyata Jin Gu sedang “curhat” pada Kakek Bong, dia sangat menyesal telah membuat Tak Gu menderita selama belasan tahun ini. Jin Gu juga menyadari bahwa Kakek Bong dulu dengan mudah menerimanya menjadi murid di Pal Bong Bakery karena sudah tahu kasus tentang Tak Gu dan dirinya. Seperti biasa, Kakek Bong menanggapi diplomatis dan bijaksana,”Ketika kau memulainya, kau juga dapat mengembalikannya, Itu sangat jelas”. Air mata Jin Gu mengalir tanpa dapat ditahan, dia menangis terisak. Jin Gu tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan agar Tak Gu bisa memaafkannya. Kakek meminta Jin Gu untuk menunggu, karena kelak akan tiba waktunya bagi Jin Gu bisa melakukan hal yang baik bagi Tak Gu. (ya… sabar saja Jin Gu oppa, aku mendukungmu, jangan menyerah)
Tak Gu masih saja berdiam diri di dapur dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Malam hari di kediaman presiden, para penjaga memeriksa keadaan dan tidak menyadari bahwa ada orang [Tak Gu] yang menyelinap masuk. Tak Gu berdiri di halaman, mengamati rumah besar itu dan siap dengan kayu di tangannya. Dengan amarah yang berkobar dalam darahnya, Tak Gu masuk ke rumah itu dan bertemu dengan Nyonya Seo yang tidak mengenali Tak Gu. Nyonya Seo mengira Tak Gu adalah pencuri. Dia tanya siapa Tak Gu. Tak Gu menjawab berapi-api penuh emosi: Kau melupakanku begitu cepat? Ini aku, Nyonya. Anak Kim Mi Sun dari Cheongsan, Kim Tak Gu. Nyonya Seo sangat shock mendengar perkataan Tak Gu. Tak Gu : Kau yang melakukannya, benar kan? [Membunuh ibunya] Menyuruh orang untuk menculik ibuku, iya kan? Nyonya Seo tidak mengerti apa yang Tak Gu bicarakan. Tak Gu sudah tidak sabar dan akan mengayunkan kayunya di depan Nyonya Seo ketika Manager Han datang dan memperingatkan Tak Gu dengan ancamannya. Tak Gu tidak takut dan tidak percaya lagi dengan kata-kata Manager Han, dia benar-benar marah dan mulai menghancurkan perabotan yang ada di dalam rumah itu dengan kayu yang dibawanya. Nyonya Seo sudah kembali percaya diri dan menghentikan Tak Gu, dia menghina Tak Gu dan dengan berani menantang Tak Gu. Tak Gu siap akan memukul Nyonya Seo dan kata-kata Kakek terngiang di kepalanya [baca ep 8] dan tangannyapun terhenti.
Dan…semua keributan itu hanya ada dalam benak Tak Gu. Kenyataannya, Tak Gu tidak bisa melawan hati nuraninya untuk bertindak sejahat itu, membalas dendam bukan sifatnya. Dia juga masih memegang teguh prinsip ajaran dari ibunya kalau kebaikan yang akan menang. Tak Gu menjatuhkan kayunya dan terduduk lemas, matanya berkaca-kaca memikirkan nasib ibunya yang malang. (akting Yoon keren tenan!!) Penghuni di dalam mansion mewah itu bahkan tidak pernah menyadari keberadaan Tak Gu malam itu.
Tak Gu teringat sesuatu dan dia mendatangi rumah workshop kenangannya bersama presiden. Presiden sedang melakukan ritual untuk mengetahui kelembaban udara. Tak Gu mengintip dari balik rerimbunan pohon. Setelah selesai, presiden berkata sendiri “Ini untuk mengecek kelembaban udara” dan kemudian berbalik seakan menatap “sesuatu”. Presiden tersenyum pada kekosongan. Tak Gu heran dengan kelakuan Presiden, karena di sana tidak ada sseorangpun kecuali presiden dan dirinya. Ternyata presiden sedang mereka ulang kenangannya dengan Tak Gu. Saat Tak Gu masih kecil, presiden pernah mengajari Tak Gu tentang perlunya mengetahui kelembaban udara agar bisa menghasilkan roti yang enak. Presiden tersenyum mengingat semua itu, tapi sesaat kemudian dia merasa sedih dan akhirnya masuk ke rumah workshop. (I wonder, he always doing this every night) Tak Gu menyaksikan semuanya juga dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu mengikuti presiden masuk ke rumah workshop.
Di dalam rumah workshop, presiden sedang membuat adonan roti seperti biasanya. Dan Tak Gu mengintip kegiatan presiden [sama persis saat Tak Gu kecil mengintip presiden untuk pertama dan terakhir kalinya], masih sambil membawa kayu di tangannya. Dia ingat semua kenangannya bersama presiden saat membuat roti dulu dan pengakuan presiden kalau Tak Gu adalah anak yang sangat spesial bagi presiden, kenangan itu berhasil meluluhkan hatinya yang terbakar amarah. (Arghhhhh… justru aku yang ngacak-acak rambut ngeliat semua itu, gemess!!) Dengan mata yang masih berkaca-kaca Tak Gu pasrah, dia menjatuhkan kayunya dan pergi dari rumah itu. Presiden kaget mendengar suara gaduh karena kayu jatuh, dia melepas celemeknya dan pergi memeriksa, tidak ada siapapun di sana dan presiden menemukan kayu di lantai. Tak Gu berjalan meninggalkan mansion itu dengan gontai, menundukkan kepala.
Di Pal Bong Bakery, semua [minus Tak Gu] bersiap dengan posisi masing-masing. Bos Yang memberikan catatan tugas mereka hari itu, sampai pada posisi Tak Gu, Bos Yang menyimpan kembali catatannya. (Wah sayang, padahal hari itu Tak Gu udah diberi tugas resmi di dapur oleh Bos Yang, tapi siapa juga yang bisa tahan satu kerjaan dengan orang yang “dianggap” sudah menyengsarakan hidupnya belasan tahun, just wait and see ^_^) Setelah ber haik-haik ria, semua bekerja dengan rajin, hanya saja Jin Gu sesekali memandang tumpukan sak tepung dan mencari keberadaan Tak Gu, kalau-kalau Tak Gu muncul terlambat. Mi Sun juga melakukan hal yang sama, tapi harapan mereka sia-sia karena Tak Gu tidak juga muncul.
Mi Sun menemani Kakek Bong yang sedang menyiram bunga. Mereka berdua ngobrol nyambung ga nyambung satu sama lain.
Mi Sun : Sepertinya dia tidak akan datang. Dia tidak akan kabur begitu saja ke suatu tempat kan. Apakah kakek mencurigai sesuatu?.
Kakek Bong : Tahun ini semua bunganya benar-benar cantik.
Mi Sun : Benar. Mungkin saja dia menyerah dan putus asa, lalu terjun ke sungai atau menabrakkan diri ke kereta.
Kakek Bong : Aigoooo bunga itu hampir mati ketika pertama kali di pindah ke sini. Sekarang, semuanya tumbuh dengan sangat baik.

sinipsis Bread Love and dream episode 8

Seluruh keluarga berkumpul diruang tengah bersama Ma Jun dan Tak Goo. Ujian akan segera dimulai.
Sementara itu disebuah gudang, presdir mendatangi bos gangster. “Kau tau anakku?tanya Presdir. “Kim Tak Goo” jawab bos. Presdir terkejut dengan jawabannya. “Dimana dia sekarang? tanya presdir. "Selama 6 minggu aku bagai dineraka, lihat lukaku ini” kata bos preman sambil menunjuk lukanya. “Katakan berapa biayanya, aku akan memberikan kompensasi yang kau inginkan” kata presdir. “potong salah satu kakimu atau beri aku kaki, apa kau bisa memberikannya?”kata bos preman. Presdir melihat preman itu dengan tajam menahan marah. “Aku akan berikan segalanya, katakan padaku dimana dia”teriak presdir. Semua kaget dengan teriakan presdir. Tiba-tiba pintu terbuka, segerombolan masuk dan siap menyerang.
Kembali ke rumah kakek. “Apa yang kakek perintahkan untuk kami lakukan?” tanya Tak Goo. “Aku mengatakan padamu untuk mengikuti tes. Tak Goo tertawa,,”Kakek” bentak Tak Goo. “berani-beraninya kau membentak didepan gurumu” kata ayah Mi Sun. “Aku ke sini untuk mencari orang yang ingin aku temui, setelah itu aku akan pergi” kata Tak Goo. “hanya ada 2 cara untuk masuk rumah ini, kau membeli roti atau belajar membuat roti, mana yang kau pilih?tanya kakek. “Membuat roti” jawab Tak Goo. “Untuk dapat belajar membuat roti di sini, kau harus melewati tes terlebih dahulu.” Kata kakek. Tak Goo akhirnya menurut.
Mi Sun mengambil adonan yang akan digunakan tes. Setiap peserta tes diharuskan mencocokan adonan yang dengan kue yang telah jadi. Ma Jun memulai dengan mencicipi satu demi satu adonan, sedangkan Tak Goo hanya melihat adonan dan tidak melakukan apapun.
Manager Han berlari ke rumah sakit. “presdir apa kau tidak apa-apa? Aku dengar kau terlibat perkelahian, bagaimana kau bisa datang ketempat berbahaya seperti itu” kata manager Han. Presdir terdiam sejenak kemudian menjawab bahwa dia mencari Tak Goo. “seharusnya anda memberitahuku dari awal, aku akan mencari Tak Goo”. “jika aku memberitahumu apa kau akan menemukan Tak Goo dengan tulus” kata presdir. “Apa presdir meragukan ketulusanku, selama 30 tahun ini aku selalu melakukan apapun sesuai perintahmu” ucap manager Han. mereka saling menatap, predir kemudian pergi.
Manager Han pergi ke sebuah gudang. Dan menemui seseorang yang telah babak belur. Ternyata orang itu adalah bos preman yang ditemui presdir. “Aku tidak menyangka kalu anak itu sangat terkenal, apa yang kau ingin berikan padaku, jika orang tadi akan memberikan kakinya, lalu bagaimana denganmu, apa kau akan memberiku gedung” kata preman itu santai. Preman itu dipukul lagi hingga ia mngeluarkan darah dimulutnya. “aku tidak akan bernegosiasi dengan orang sepertimu, dan aku tidak akan mengasihimu, jangan buang waktumu beritahu aku dimana Kim Tak Goo” kata manager Han sambil memegang wajah preman itu. Mereka saling menatap.
Setelah menutup tokonya, ibu Mi Sun Masuk rumah untuk melihat tes yang dilakukan kakek. “Apa yang telah terjadi?”tanya ibu Mi Sun. “anak itu sangat aneh, dia belum mencicipi adonan itu, yang dia lakukan hanya menciuminya.”kata Jae Bok.
Waktunya memberikan jawaban, Mi Sun bertugas mengumpulkan jawaban mereka. Ma Jun telah memberikan jawabannya namun tidak dengan Tak Goo, dia masih saja menciumi adonan itu. “Hei apa yang kau lakukan, jika kau tidak menuliskan jawabanmu dalam 5 detik kau akan kehilangan kesempatanmu” kata Mi Sun. “Baiklah aku akan menuliskannya” kata Tak Goo kesal.. Mi Sun komat kamit gak jelas sambil ngeliatin Tak Goo.
Setelah Mi sun mengambil jawaban Tak Goo, ia lalu memberikannya pada kakek (kakek itu biasanya di panggil mister palbong). Kakek mengecek jawaban mereka satu persatu dengan seksama. “Siapa yang menulis nomor 4? Tanya kakek. “Saya” jawab Ma Jun. “Coba jelaskan” pinta kakek. “roti ini memiliki aroma yang masam, tetapi untuk yang selanjutnya jauh lebih lembut dan memiliki rasa yang sangat kuat, ini bau seperti adonan yang telah dibiarkan selama 50 jam, itu sebabnya aku memilih nomor 4” kata Ma jun percaya diri. Semua keluarga Hong tersenyum bangga.
Pandangan kemudian mengarah ke arah Tak Goo. “Bagaimana dengan nomor 5? Tanya kakek. “Aku tidak menulis angka 5” jawab Tak Goo. “Apa maksudmu? kau menulis angka 5” kata kakek sambil melihatkan jawaban Tak Goo. “Maksudku bukan nomor 5, namun jawabanku adalah kelima adonan ini” jawab Tak Goo. Semua orang yang mendengar jawaban Tak Goo mulai berpikir.
“Bagaimana jawabanmu bisa kelima adonan?” Tanya kakek. “Aku tidak yakin, namun semua adonan ini memiliki bau yang sama, setiap adonan memiliki tingkat keasinan dan kemanisan yang berbeda tetapi dasar semua adonan tidak jauh beda dengan roti, benarkan?” jawab Tak Goo. Semua orang tertegun dengan jawaban Tak Goo.
Tiba-tiba kakek tertawa. “Jawaban dari pertanyaan ini adalah adonan nomor 4” kata kakek. Ma Jun tertawa tipis. “itu jawabanmu kan Tae Jo? Tanya kakek. “ya guru” jawab Tae Jo. “Kebanyakkan orang memilih nomor 3 karena memiliki kemiripan yang sama tetapi kau mengetahuinya setelah merasakannya. Selama 5 tahun ini, kau orang keempat yang menjawab dengan benar. “Lalu apakah kau menerimaku untuk belajar disini? Tanya Ma Jun. “Tentu saja, datanglah lagi besok” kata kakek. Semua orang senang terutama Ny. Yang.
Pandangan kakek kini mengarah ke Tak Goo. “Kau juga, datanglah lagi besok” kata kakek. Semua orang terkejut dengan keputusan kakek. “Namun kau bilang jawabannya dalah nomor 4” seru Tak Goo. “Jawabannya memang nomor 4, tetapi jawabanmu juga tidak salah, sebenarnya semua adonan yang ada dihadapanmu terbuat dari bahan yang sama, alasan mengapa rasanya berbeda adalah karena lama fermentasinya berbeda, kau mengetahuinya tanpa merasakannya namun hanya dengan baunya, kau adalah orang pertama yang melakukan ini sejak ujian ini dimulai” kata kakek.
Lalu aku ini lulus atau tidak? Tanya Tak Goo. “Kau lulus” jawab kakek. Semua orang terkejut dengan keputusan kakek tak terkecuali Ma Jun. Sementara itu Tak Goo sangat senang.
Ujian selesai, kakek bergegas bangun dan pergi ke kamar, “aku belum menanyakan namamu sejak kemarin, siapa namamu? Tanya kakek. “Namaku Kim Tak Goo” kata Tak Goo dengan semangat. Betapa terkejutnya Ma Jun mendengar hal itu.
Kakek pergi ke kamar diikuti oleh tuan Yang, Gap So dan yang lainnya. “Ayah aku mohon pertimbangkan lagi” kata tuan Yang. Ny. Yang pun tutut memohon. “ratusan kandidat yang bertalenta ingin masuk bakery kita, tetapi ayah menolak mereka semua dan sekarang malah menerima orang yang tidak kompeten, aku tidak mengerti ayah” kata Tuan Yang. “Kapan aku memilih seseorang hanya dengan basic dan skill? Kau In Mok (nama tuan Yang) bagaimana denganmu ketika pertama kali bertemu? Kau Gap Soo, Jin Go, dan kau juga Jae Bok. Jika kalian memahamiku tinggalkanlah aku” kata kakek.
Tuan Yang berpikir sejenak. “Tetapi ayah bagaimana dengan Jin Go? Tanya Tuan Yang. “jika takdir mempertemukan mereka, kita tidak dapat menghindarinya. Bukankah begitu Jin Goo? Kata kakek. Tuang Yang terlihat cemas.
Mi Sun mengantar Ma Jun dan Tak Goo ke kamarnya. Dan menjelaskan semuanya, mulai dari kamar mandi hingga jam berapa mereka harus bangun. “Dimana kalau mau makan? Tanya Tak Goo. “Di restaurant bawah, waktu makan sangat fleksibel sesuai dengan jadwal bekerja” jawab Mi Sun tanpa melihat ke arah Tak Goo namun mengarah pada Ma Jun. “akankah baju kita dicuci?tanya Tak Goo lagi. “Ruang laundry ada di sebelah restoran jadi kau bisa menaruh bajumu disana” jawab Mi Sun.
“Hei kau, aku yang bertanya tetapi mengapa kau malah melihat ke arahnya” Tanya Tak Goo sambil menunjuk Ma Jun. Mi Sun tidak memperhatikan protes Ma Jun, dia tetap cuek. “kita bekerja mulai jam 3 pagi, jangan sampai terlambat karena ayahku itu sangat teliti. Guru Pal Bong adalah ayah ibuku, dan aku adalah anak perempuan dirumah ini, namaku Yang Mi Sun” kata Mi Sun tegas. “Hah apa katamu?namamu Mi Sun, apakah kau berpikir namamu itu cocok dengan wajahmu?kata Tak Goo tak sopan. Mi Sun masih bersabar dan tidak mempedulikan Tak Goo. “Bagaimana kalau namamu diganti Yang Fallen Soybeans? kata Tak Goo tanpa dosa. Mi Sun hilang kesabaran dia menendang kaki Tak Goo dan pergi.
Ma Jun dan Tak Goo masuk ke kamar mereka. “Apakah kau benar-benar dari jepang?apakah perempuan-perempuan disana hanya menggunakan kimononya disepanjang jalan?kau juga pasti menggunakan pesawatkan?kau pasti bisa melihat awan dengan jelas, awan itu lembut bagai katun bukan”. Tiba-tiba Ma Jun membanting pintu lemarinya, Tak Goo kaget dan menghentikan ocehannya.
“Wanita korea tidak hanya menggunakan Hanbok, dan bagimana bisa awan bisa lembut seperti katun, tidakkah kau memperlajarinya di SD, awan itu gumpalan embun, tidakkah kau sekolah?” seru Ma Jun. “Haa, aku tidak sekolah, aku di DO saat SD, sebenarnya ada seseorang yang akan aku temukan, ibuku hilang, tempat di Korea sudah ku kunjungi selama 12 tahun namun aku belum menemukkannya.” Jelas Tak Goo. Mendengar hal itu Ma Jun mengepalkan tangannya.
“Ada beberapa peraturan untukmu agar kita tetap bisa berbagi diruangan ini, pertama jangan memulai percakapan semaumu, kedua jangan berpura-pura ramah, dan yang ketiga aku tidak suka kau membicarakan tentang kehidupanmu jadi kau jangan banyak omong” kata Ma Jun pada Tak Goo. Kemudian meninggalkan Tak Goo
“Hei Tae Jo, jangan anggap aku ini kompetitormu, aku kesini hanya untuk bertemu seseorang, setelah aku menemuinya aku akan pergi segera, jadi jangan khawatir” kata Tak Goo. Ma Jun kemudian pergi.
Ma Jun pergi ke kamar mandi dan membasuh wajahnya, dia teringat ketika kecil, manager Han mengatakan bahwa ia mengirim Tak Goo ke suatu tempat, dan dia tidak akan pernah kembali mengganggu kehidupan Ma Jun lagi. “Lalu mengapa dia kembali lagi, dasar pengemis” teriak Ma Jun sambil memukulkan tangannya ke kaca. Sementara itu Tak Goo menikmati malamnya ditempat tidur. Di lain pihak terdapat mata-mata suruhan manager Han yang mengawasi toko Pal Bong.
Di lain pihak Ny. Seo masih memikirkan adanya nama Tak Goo di kartu keluarga mereka. Ny. Seo berpikir sejenak kemudian menelepon pengacara.
Pagi hari pun tiba.”Buat barisan” perintah Tuan Yang. Mereka semua berbaris dengan rapi kecuali Tak Goo yang tidak menggunakan pakaian seragam. Tuan Yang membagikan tugas ke semuanya kecuali Tak Goo. “Di sini bukan tempatmu” kata Tuan Yang. Tak Goo heran mendengar hal itu.
Di tempat penyimpanan tepung tuan Yang menyuruh Tak Goo untuk memindahkan 32 sak tepung ke lantai bawah. Tak Goo sempat mengomel dalam hati. Namun ia tetap menjalankan perintah tuan Yang.
Tak Goo melakukan pekerjaannya hingga menjelang siang. Tak Goo senang karena pekerjaannya selesai. “Kerjaanku bagus kan?kata Tak Goo sambil menyenderkan badannya ke tumpukan tepung. “Sekarang bawa kembali tepung-tepung itu ke tempat semula” perintah Tuan Yang. Tak Goo kaget setengah mati.

wibiya widget

Popular PosTs