Jin Gu menangis minta maaf pada Tak Gu atas semua kesalahannya. Tak Gu tidak bisa terima, dia mencengkeram kerah baju Jin Gu dan bilang kalau Jin Gu tidak perlu minta maaf, Tak Gu hanya ingin mendengar kalau ibunya selamat dan baik-baik saja. Jin Gu semakin terisak, dia sangat menyesal karena tidak bisa menyelamatkan ibu Tak Gu dan membuatnya “tewas”. Tak Gu sangat shock, terpukul, tidak siap dengan “kenyataan” ini, hatinya hancur, harapannya hilang dan dia hanya bisa menangis dan meraung keras. Mi Sun ikut sedih melihat Tak Gu sangat terpukul. Raungan Tak Gu bahkan terdengar sampai lantai bawah, semuanya heran mendengar tangisan Tak Gu, Bos Yang yang mengerti keadaan Tak Gu merasa sedih juga. Presiden yang akan masuk mobil juga mendengar raungan Tak Gu, tapi dia tidak terlalu yakin. (ya ampun pak.. ntu anakmu yang lagi nangis tau!! Kalo udah kayak gini, ga perlu bilang aku ikut nangis)
Flashback
Ketika Jin Gu masih ada di penjara, Bos Yang memberikan kursus membuat roti kepada para napi. Itulah pertama kalinya mereka bertemu. Bos Yang mendatangi Jin Gu yang diam saja, padahal napi lain sudah membuat adonan roti. Jin Gu bilang kalau dia tidak mau membuat roti, Bos Yang heran. Saat Bos Yang menanyakan nama Jin Gu, Jin Gu bilang kalau dia tidak punya nama.
Akhirnya, setelah Jin Gu keluar dari penjara, Boss Yang [yang saat itu masih belum jadi bos] membawa Jin Gu menghadap Kakek Bong. Jin Gu memohon pada Kakek Bong untuk menerimanya karena dia ingin belajar [baca : bertobat], “Maafkan aku guru, meskipun aku merasa tidak punya kemampuan, tapi aku masih punya mimpi untuk membuat roti”. Kakek Bong semula tidak terlalu tertarik, tapi begitu melihat ada tato kincir angin di lengan Jin Gu, dia kaget dan langsung teringat pada Tak Gu kecil yang mencari pria bertato kincir angin agar bisa menemukan ibunya. Kakek Bong menanggapi,”Alasan pria ini sungguh menarik”. Jin Gu tidak mengerti maksud kata-kata kakek tersebut.
Flashback endTernyata Jin Gu sedang “curhat” pada Kakek Bong, dia sangat menyesal telah membuat Tak Gu menderita selama belasan tahun ini. Jin Gu juga menyadari bahwa Kakek Bong dulu dengan mudah menerimanya menjadi murid di Pal Bong Bakery karena sudah tahu kasus tentang Tak Gu dan dirinya. Seperti biasa, Kakek Bong menanggapi diplomatis dan bijaksana,”Ketika kau memulainya, kau juga dapat mengembalikannya, Itu sangat jelas”. Air mata Jin Gu mengalir tanpa dapat ditahan, dia menangis terisak. Jin Gu tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan agar Tak Gu bisa memaafkannya. Kakek meminta Jin Gu untuk menunggu, karena kelak akan tiba waktunya bagi Jin Gu bisa melakukan hal yang baik bagi Tak Gu. (ya… sabar saja Jin Gu oppa, aku mendukungmu, jangan menyerah)
Tak Gu masih saja berdiam diri di dapur dan akhirnya memutuskan untuk melakukan sesuatu.
Malam hari di kediaman presiden, para penjaga memeriksa keadaan dan tidak menyadari bahwa ada orang [Tak Gu] yang menyelinap masuk. Tak Gu berdiri di halaman, mengamati rumah besar itu dan siap dengan kayu di tangannya. Dengan amarah yang berkobar dalam darahnya, Tak Gu masuk ke rumah itu dan bertemu dengan Nyonya Seo yang tidak mengenali Tak Gu. Nyonya Seo mengira Tak Gu adalah pencuri. Dia tanya siapa Tak Gu. Tak Gu menjawab berapi-api penuh emosi: Kau melupakanku begitu cepat? Ini aku, Nyonya. Anak Kim Mi Sun dari Cheongsan, Kim Tak Gu. Nyonya Seo sangat shock mendengar perkataan Tak Gu. Tak Gu : Kau yang melakukannya, benar kan? [Membunuh ibunya] Menyuruh orang untuk menculik ibuku, iya kan? Nyonya Seo tidak mengerti apa yang Tak Gu bicarakan. Tak Gu sudah tidak sabar dan akan mengayunkan kayunya di depan Nyonya Seo ketika Manager Han datang dan memperingatkan Tak Gu dengan ancamannya. Tak Gu tidak takut dan tidak percaya lagi dengan kata-kata Manager Han, dia benar-benar marah dan mulai menghancurkan perabotan yang ada di dalam rumah itu dengan kayu yang dibawanya. Nyonya Seo sudah kembali percaya diri dan menghentikan Tak Gu, dia menghina Tak Gu dan dengan berani menantang Tak Gu. Tak Gu siap akan memukul Nyonya Seo dan kata-kata Kakek terngiang di kepalanya [baca ep 8] dan tangannyapun terhenti.
Dan…semua keributan itu hanya ada dalam benak Tak Gu. Kenyataannya, Tak Gu tidak bisa melawan hati nuraninya untuk bertindak sejahat itu, membalas dendam bukan sifatnya. Dia juga masih memegang teguh prinsip ajaran dari ibunya kalau kebaikan yang akan menang. Tak Gu menjatuhkan kayunya dan terduduk lemas, matanya berkaca-kaca memikirkan nasib ibunya yang malang. (akting Yoon keren tenan!!) Penghuni di dalam mansion mewah itu bahkan tidak pernah menyadari keberadaan Tak Gu malam itu.
Tak Gu teringat sesuatu dan dia mendatangi rumah workshop kenangannya bersama presiden. Presiden sedang melakukan ritual untuk mengetahui kelembaban udara. Tak Gu mengintip dari balik rerimbunan pohon. Setelah selesai, presiden berkata sendiri “Ini untuk mengecek kelembaban udara” dan kemudian berbalik seakan menatap “sesuatu”. Presiden tersenyum pada kekosongan. Tak Gu heran dengan kelakuan Presiden, karena di sana tidak ada sseorangpun kecuali presiden dan dirinya. Ternyata presiden sedang mereka ulang kenangannya dengan Tak Gu. Saat Tak Gu masih kecil, presiden pernah mengajari Tak Gu tentang perlunya mengetahui kelembaban udara agar bisa menghasilkan roti yang enak. Presiden tersenyum mengingat semua itu, tapi sesaat kemudian dia merasa sedih dan akhirnya masuk ke rumah workshop. (I wonder, he always doing this every night) Tak Gu menyaksikan semuanya juga dengan mata berkaca-kaca. Dia lalu mengikuti presiden masuk ke rumah workshop.
Di dalam rumah workshop, presiden sedang membuat adonan roti seperti biasanya. Dan Tak Gu mengintip kegiatan presiden [sama persis saat Tak Gu kecil mengintip presiden untuk pertama dan terakhir kalinya], masih sambil membawa kayu di tangannya. Dia ingat semua kenangannya bersama presiden saat membuat roti dulu dan pengakuan presiden kalau Tak Gu adalah anak yang sangat spesial bagi presiden, kenangan itu berhasil meluluhkan hatinya yang terbakar amarah. (Arghhhhh… justru aku yang ngacak-acak rambut ngeliat semua itu, gemess!!) Dengan mata yang masih berkaca-kaca Tak Gu pasrah, dia menjatuhkan kayunya dan pergi dari rumah itu. Presiden kaget mendengar suara gaduh karena kayu jatuh, dia melepas celemeknya dan pergi memeriksa, tidak ada siapapun di sana dan presiden menemukan kayu di lantai. Tak Gu berjalan meninggalkan mansion itu dengan gontai, menundukkan kepala.
Di Pal Bong Bakery, semua [minus Tak Gu] bersiap dengan posisi masing-masing. Bos Yang memberikan catatan tugas mereka hari itu, sampai pada posisi Tak Gu, Bos Yang menyimpan kembali catatannya. (Wah sayang, padahal hari itu Tak Gu udah diberi tugas resmi di dapur oleh Bos Yang, tapi siapa juga yang bisa tahan satu kerjaan dengan orang yang “dianggap” sudah menyengsarakan hidupnya belasan tahun, just wait and see ^_^) Setelah ber haik-haik ria, semua bekerja dengan rajin, hanya saja Jin Gu sesekali memandang tumpukan sak tepung dan mencari keberadaan Tak Gu, kalau-kalau Tak Gu muncul terlambat. Mi Sun juga melakukan hal yang sama, tapi harapan mereka sia-sia karena Tak Gu tidak juga muncul.
Mi Sun menemani Kakek Bong yang sedang menyiram bunga. Mereka berdua ngobrol nyambung ga nyambung satu sama lain.
Mi Sun : Sepertinya dia tidak akan datang. Dia tidak akan kabur begitu saja ke suatu tempat kan. Apakah kakek mencurigai sesuatu?.
Kakek Bong : Tahun ini semua bunganya benar-benar cantik.
Mi Sun : Benar. Mungkin saja dia menyerah dan putus asa, lalu terjun ke sungai atau menabrakkan diri ke kereta.
Kakek Bong : Aigoooo bunga itu hampir mati ketika pertama kali di pindah ke sini. Sekarang, semuanya tumbuh dengan sangat baik.
Kakek Bong : Tahun ini semua bunganya benar-benar cantik.
Mi Sun : Benar. Mungkin saja dia menyerah dan putus asa, lalu terjun ke sungai atau menabrakkan diri ke kereta.
Kakek Bong : Aigoooo bunga itu hampir mati ketika pertama kali di pindah ke sini. Sekarang, semuanya tumbuh dengan sangat baik.







































